Sat. May 8th, 2021

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Data Ekonomi China-AS Kuat, Harga Minyak Dunia Langsung Naik

2 min read

Data ekonomi yang kuat dari China dan Amerika Serikat membantu mengangkat harga minyak lebih dari 1 persen pada perdagangan hari Selasa kemarin, membalikkan beberapa kerugian di sesi sebelumnya.

Mengutip CNBC, Rabu (7/4/2021) minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), patokan Amerika, ditutup melonjak 68 sen, atau 1,2 persen menjadi 59,33 dolar AS per barel. WTI kehilangan 4,6 persen pada sesi Senin, setelah meluncur ke level terendah dua pekan di 57,63 dolar AS per barel.

Sementara itu, minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, meningkat 59 sen, atau 1 persen, menjadi 62,74 dolar AS per barel. Brent anjlok 4,2 persen pada penutupan sebelumnya.

Harga menguat karena data Maret menunjukkan aktivitas jasa Amerika menyentuh rekor tertinggi. Sektor jasa China juga meningkat tajam dengan kenaikan penjualan paling tajam dalam tiga bulan.

Selain itu, Inggris berencana melonggarkan pembatasan virus korona pada 12 April, memungkinkan bisnis dibuka kembali, termasuk semua toko, pusat kebugaran, salon rambut, dan tempat perhotelan luar ruangan.

Pasar pulih dari penurunan tajam pada sesi Senin, ketika kedua patokan harga minyak merosot sekitar 3 dolar AS karena meningkatnya pasokan minyak OPEC Plus dan melonjaknya infeksi Covid-19 di India dan sebagian Eropa.

Organisasi Negara Eksportir Minyak (OPEC) dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC Plus, pekan lalu sepakat untuk mengembalikan pasokan 350.000 barel per hari (bph) pada Mei, 350.000 bph lagi di Juni dan 400.000 bph atau lebih pada Juli.

“Meski OPEC Plus bertentangan dengan apa yang dipikirkan oleh sebagian besar pelaku pasar dan tim risetnya sendiri, meningkatkan produksi minyaknya secara signifikan selama tiga bulan ke depan, pasar sekarang memberi isyarat bahwa tak masalah dengan hal itu dan siap untuk mendapatkan keuntungan dari kurangnya ketidakpastian bahwa pembaruan month-to-month akan membawa hasil,” kata Louise Dickson, analis Rystad Energy.