Sat. Jun 19th, 2021

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Harga Daging Sapi Meroket, KPPU: Penyebabnya Pasokan

2 min read

Jakarta –

Harga daging sapi naik jelang Lebaran. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) melakukan pemantauan di enam kantor wilayah (Kanwil) di seluruh provinsi, diketahui daging sapi tertinggi sentuh Rp 140.000/kg.

“Beberapa komoditi relatif stabil. Cuma memang masih ada daging sapi yang sifatnya cenderung stabil di level yang tinggi Rp 130.000 – Rp 140.000/kg untuk daging segar,” kata Deputi bidang Kajian dan Advokasi Taufik Ariyanto dalam konferensi pers virtual, Kamis (6/5/2021).

Kepala Kanwil III KPPU, Aru Armando mengatakan hingga saat ini tak ada pelanggaran persaingan usaha pada kenaikan harga daging sapi yang terjadi. Dia sendiri memantau untuk wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten.

“Kami belum menemukan (pelanggaran persaingan usaha) atas kenaikan daging sapi sementara ini,” tuturnya.

“Penyebabnya karena persoalan ketersediaan pasokan. Maksudnya harganya sudah mahal di hulunya, di Australia sudah mahal, kemudian rantai pasoknya cukup panjang daging sapi ini,” bebernya.Aru menjelaskan kenaikan daging sapi dikarenakan adanya kenaikan harga dari pasar importir yang berasal dari Australia. Belum lagi rantai pasok yang panjang menambah biaya.

Hal ini sesuai Laporan Status Industri Indonesia Australia dalam sektor Daging Merah dan Sapi, yang menunjukkan impor sapi hidup dari Australia ke Indonesia merosot pada tahun 2020 karena kenaikan harga sapi bakalan yang menembus level tertinggi sepanjang 20 tahun terakhir sebesar AU$ 4,18 per kilogram bobot sapi hidup.

Diperkirakan harga daging sapi ini masih cenderung tinggi pada 2021 karena upaya dari peternak yang ingin melakukan re-populasi sapi, akibat kekeringan yang terjadi beberapa tahun belakangan.

“Saat ini kondisi cuaca dan lingkungan mendukung peternak Australia untuk melakukan re-populasi ternak, ini meningkatkan kompetisi antar peternak, pemasok dan eksportir untuk mendapatkan sumber sapi yang terbatas pasca kekeringan dan banjir,” jelas Co-chair Indonesia-Australia Red Meat & Cattle Partnership Chris Tinning, dalam keterangan resmi Meat & Livestock Australia (MLA).