Sat. Jun 19th, 2021

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Kebijakan China Bisa Cegah Kelahiran Jutaan Bayi Uighur di Xinjiang

2 min read

Beijing –

Sebuah kajian baru mendapati bahwa kebijakan China untuk mengendalikan kelahiran di wilayah Xinjiang bisa mencegah kelahiran sekitar empat juta bayi warga minoritas Muslim Uighur dalam dua dekade ke depan. Kebijakan itu disebut bertujuan secara spesifik untuk mengurangi populasi warga Uighur di Xinjiang.

Seperti dilansir AFP, Selasa (8/6/2021), proyeksi dalam kajian terbaru itu menunjukkan bahwa penurunan angka kelahiran di kalangan warga minoritas bisa meningkatkan proporsi jumlah warga etnis Han — kelompok mayoritas di China — dari 8,4 persen menjadi 25 persen di kawasan Xinjiang.

Selama bertahun-tahun, China diketahui berusaha memperketat cengkeramannya atas area perbatasan yang luas, yang secara historis ditandai oleh ketidaksetaraan ekonomi dan pecahnya kerusuhan secara sporadis.

Jutaan warga etnis Han direlokasi ke wilayah Xinjiang dalam beberapa dekade untuk mencari pekerja di wilayah yang kaya batubara dan minyak itu, dalam upaya permukiman yang memicu gesekan di lapangan.

Pada saat bersamaan, sebut Zenz, kekhawatiran soal kurangnya sumber daya alam untuk mendukung aliran pemukim Han, menunjukkan bahwa otoritas China memandang penekanan angka kelahiran sebagai cara utama memanipulasi susunan demografi di area tersebut.Peneliti Jerman, Adrian Zenz, mengatakan bahwa dokumen yang tersedia untuk umum yang disusun para peneliti keamanan China menyalahkan kepadatan komunitas minoritas sebagai ‘alasan mendasar’ untuk pecahnya kerusuhan dan mengusulkan pengendalian populasi sebagai metode pengurangan risiko.

Pekan lalu, China mengumumkan reformasi besar-besaran untuk kebijakan jumlah anak bagi warganya, dengan menaikkannya menjadi tiga anak saat negara ini berjuang menghadapi populasi yang menua.

Namun para akademisi menyatakan China tidak menanggap semua baya sama diinginkannya di Xinjiang, dan secara aktif menerapkan kebijakan mengurangi jumlah anak yang lahir dari kelompok etnis minoritas. Strategi yang diambil pemerintah China termasuk meningkatkan kebijakan pengendalian kelahiran di Xinjiang, termasuk memenjarakan orang-orang yang memiliki terlalu banyak anak dan klaim sterilisasi paksa.

Fokus pada empat perfektur di Xinjiang bagian selatan dan menggunakan model yang direkomendasikan banyak akademisi China, Zenz memperkirakan China bertujuan menaikkan jumlah populasi etnis Han di wilayah yang disebut sebagai ‘jantung tradisional Uighur’ ini menjadi seperempat populasi.

Zenz menuturkan dirinya menemukan ‘niat untuk mengurangi pertumbuhan populasi etnis minoritas demi meningkatkan proporsi populasi Han di Xinjiang selatan’.

Menurut analisis Institut Kebijakan Strategis Australia, data resmi menunjukkan angka kelahiran di Xinjiang menurun hampir separuhnya antara tahun 2017 hingga 2019 — penurunan paling tajam di seluruh wilayah China dan paling ekstrem secara global sejak tahun 1950.

Lebih lanjut, Zenz memperkirakan bahwa pertumbuhan alami populasi etnis minoritas di Xinjiang bagian selatan akan mencapai 13,14 juta jiwa tahun 2040. Namun kebijakan penekanan angka kelahiran itu bisa mencegah hingga 4,5 juta kelahiran di kalangan warga Uighur dan etnis minoritas lainnya.

Otoritas China membalas tuduhan itu dengan memamerkan pencapaian pemberantasan terorisme dan ekonomi di kawasan tersebut, serta menerapkan sanksi balasan dan menuntut para pengkritiknya.China menghadapi kritikan internasional terkait kebijakannya di Xinjiang, dengan Amerika Serikat (AS) menyebut China melakukan genosida. Laporan kelompok HAM bahkan menyebut sedikitnya 1 juta warga Uighur dan etnis minoritas Muslim lainnya ditahan di kamp-kamp yang tersebar di Xinjiang.

Baca juga !