Fri. May 7th, 2021

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Kisah Pembelot Korut Lolos dari Perbudakan, Kini Bersaing di Pemilu Inggris

6 min read

Jakarta –

Timothy Cho dan Jihyun Park melarikan diri dari kelaparan, status sebagai tunawisma, dan penjara di Korea Utara. Kini keduanya bersaing sebagai kandidat dalam pemilihan lokal Inggris bulan ini.

Mereka disebut-sebut sebagai pembelot Korea Utara pertama dalam sejarah yang mencalonkan diri di negara demokratis selain Korea Selatan. Cho dan Park menceritakan kepada BBC tentang pelarian mereka yang berani, perjalanan sulit ke Inggris, dan alasan terjun ke politik Inggris.

Kabur atau mati

Jihyun Park dengan adik laki-lakinya berdiri sembari menatap ke arah perbatasan China. Park melihat bahwa tidak ada lagi pilihan. Ayahnya sakit parah dan pamannya meninggal karena kelaparan.

Dia dihadapkan pada dua opsi: melarikan diri ke China atau mati kelaparan di Korea Utara.

Saat itu tahun 1998, dan Korea Utara tengah mengalami kelaparan nasional yang parah. Uni Soviet ambruk sehingga tidak lagi memberikan bantuan krusial. Total warga Korea Utara yang mati kelaparan tidak diketahui, tetapi perkiraan berkisar hingga tiga juta orang.

Melarikan diri tidak lantas membuat semuanya selesai dan bahagia.

 

Setibanya di China, Park dijual oleh pedagang manusia dengan harga sekitar Rp10 juta ke seorang petani untuk dipaksa menikah.

Kelompok hak asasi manusia mengatakan banyak perempuan Korea Utara diculik dan dipaksa menikah dengan pria China, seperti Park.

Para perempuan itu pun menjadi terjebak karena jika tertangkap pihak berwenang, mereka akan dideportasi kembali ke Korea Utara.

Perbudakan dan penjara

Jihyun Park menaruh pamflet melalui kotak surat bersama dengan rekan kerja.BBC”Saya pernah tinggal di Korea Utara dan China, dan saya tahu apa arti kebebasan sebenarnya,” kata Park.

Selama hidup seperti budak dalam keluarga di China, Park melahirkan seorang putra dari suami yang pecandu alkohol.

Park dan anak laki-lakinya yang tinggal secara ilegal pun selalu bersembunyi agar tidak ditangkap dan dikirim kembali ke Korea Utara.

Namun, setelah lima tahun hidup sengsara, dia ditangkap oleh otoritas China dan dideportasi ke Korea Utara. Park dipisahkan secara paksa dari putranya.

China mendeportasi warga Korea Utara karena melihat mereka sebagai imigran gelap alih-alih pengungsi – meskipun Konvensi PBB tentang Pengungsi tahun 1951 telah melarang pemulangan pengungsi ke negara di mana mereka menghadapi risiko penganiayaan atau penyiksaan.

“Saya menderita karena terpisah dengan keluarga baik di Korea Utara dan China, dan saya tahu betapa menyakitkan itu,” kata Park kepada BBC.

Pada tahun 2004, Park dideportasi ke Korea Utara dan dipenjara di kamp kerja paksa. Di sana dia mengalami penyiksaan dan penganiayaan.

Kondisi di kamp menyebabkan ia menderita penyakit gangrene yang parah – matinya jaringan tubuh akibat tidak mendapat pasokan darah- di kakinya. Park pun hampir mati dan tidak dapat bekerja, dia kemudian dibebaskan.

Di saat kesehatannya perlahan membaik karena bantuan orang asing, Park kembali memutuskan untuk mempertaruhkan nyawanya dengan menyebrang ke China – hatinya sakit melihat kondisi putra yang ditinggalkan.

Park memutuskan melarikan diri untuk kedua kalinya untuk dapat bersatu dengan putranya – yang telah ditelantarkan oleh keluarga suaminya.

Rumah baru

Jihyun Park di stasiun kereta di pusat kota London

Jihyun Park diyakini sebagai orang pertama keturunan Korea Utara yang mencalonkan diri dalam pemilihan di Inggris. (BBC/Jihyun Park)

Pada tahun 2005, dia bertemu dengan suaminya yang sekarang saat berupaya menempuh perjalanan ke Mongolia bersama para pengungsi Korea Utara lainnya.

Setelah menderita kelaparan yang parah di gurun selama berhari-hari, mereka kembali ke Beijing dan menyembunyikan diri dari aparat keamanan sampai seorang pendeta Korea Selatan memandu mereka ke Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Keluarga tersebut akhirnya diberikan suaka dan menetap di Inggris pada tahun 2008. Namun, tidak mudah bagi mereka untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan baru yang penuh kesulitan termasuk kendala bahasa.

“Saya menghabiskan 13 tahun di Bury (di barat laut Inggris). Tinggal di lingkungan ini, saya dibantu oleh banyak orang tanpa prasangka [meskipun] saya tidak bisa berbahasa Inggris sama sekali. Ketika mereka mengatakan ‘selamat datang’ kepada saya dengan kehangatan, air mata saya mengalir dan saya mendapatkan banyak keberanian dengan kata-kata itu. ”

 

Berprofesi sebagai guru di Korea Utara, Park bekerja di restoran Korea di Manchester dan belajar bahasa Inggris di pusat pembelajaran orang dewasa. Dia telah menjadi aktivis hak asasi manusia Korea Utara, dan mulai membantu pengungsi Korea Utara lainnya untuk menetap di Inggris.

Ketika dia bergabung dengan Partai Konservatif pada tahun 2016, beberapa orang mempertanyakan mengapa dia mengambil keputusan tersebut. Park mengatakan, ia menghargai kebebasan lebih dari apapun dan dia percaya bahwa kebebasan dan kehidupan keluarga adalah nilai inti dari Partai Konservatif.

Partai itu kini telah memilih Park sebagai salah satu kandidat dalam pemilihan lokal bulan ini.

“Sebagai seorang kandidat, saya pikir kekuatan saya adalah kebebasan. Orang sering berbicara tentang kebebasan, tetapi saya pikir tidak banyak orang yang tahu apa artinya sebenarnya. Saya pernah tinggal di Korea Utara dan China, dan saya tahu apa arti kebebasan yang sebenarnya. Kebebasan adalah mengetahui siapa diri kita, dan itulah nilai yang paling penting.”

Pengemis anak

Timothy Cho, 33, dulu tinggal di jalanan Korea Utara sebagai anak tunawisma – yang dikenal sebagai kotjebi – selama kelaparan dahsyat melanda negara itu. Anak yatim piatu itu hidup di jalanan mencari makanan dan tempat berlindung sebelum membelot ke China pada tahun 2004.

“Saya terpisah dari orang tua saya sejak kecil. Mereka adalah guru dan ayah saya mengajar sejarah di sekolah. Tapi ayah merasa malu mengajar sejarah palsu sehingga mendapat masalah. Jadi, mereka harus melarikan diri dari desa, dan saya ditinggalkan sendirian, “kata Cho.

Banyak yang mati selama kelaparan dahsyat di Korea Utara pada 1990-an, dan Cho berjuang keras mencari kerabat untuk membantunya.

Setelah bertahun-tahun di jalan, dia pergi ke rumah neneknya untuk membantunya bertani, tetapi dia segera menyadari bahwa hanya ada sedikit harapan baginya – dia akan selalu dikenal sebagai anak seorang “pengkhianat”.

“Saya termasuk dalam kelompok yang paling dibenci di Korea Utara karena ayah saya. Suatu kali saya memberi tahu guru dengan berlinang air mata bahwa meskipun ayah saya seorang pengkhianat, itu tidak berarti saya juga. Tapi mereka tidak mendengarkan.”

Cho memutuskan untuk melarikan diri dari Korea Utara – keputusan yang sangat menyakitkan tanpa ada prospek untuk kembali. Remaja laki-laki itu berhasil melintasi perbatasan China dan tidak tahu apa yang akan terjadi di depannya.

Saat mencoba melintasi perbatasan Mongolia, Cho ditangkap oleh polisi, dipulangkan ke Korea Utara dan dipenjarakan. Kondisi di penjara membuatnya mengalami trauma jangka panjang, hingga sekarang.

“Hal yang paling menakutkan adalah mendengar jeritan tahanan di penjara. Dipukul sampai mati lebih menakutkan daripada mati karena kelaparan. Trauma itu berlangsung begitu lama – bahkan setelah saya menetap di Inggris, saya sering terbangun di malam dan bertanya-tanya di mana saya berada. Saya merasa seperti saya bisa mendengar suara jeritan orang-orang yang dipukuli di sana, “kata Cho.

Dia selamat dari penjara, dan berhasil kembali ke China, tetapi ditangkap untuk kedua kalinya.

Namun, media asing melaporkan kisah pengungsi Korea Utara yang menunggu pemulangan paksa – termasuk dirinya – dan pihak berwenang China diyakinkan untuk tidak mengirim mereka kembali ke Korea Utara.

“Tidak ada yang bisa saya lakukan selain berdoa, dan saya masih berpikir itu adalah mukjizat,” tambah Cho.

Terjun politik

Pada 2008, Cho diterima sebagai pengungsi di Inggris dan menemukan kehidupan baru.

Sama seperti Park, dia mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan masyarakat baru. Menunggu pendaftaran sekolah, Cho bergabung dengan kelompok relawan yang membantu para tunawisma.

Timothy Cho berfoto dengan memakai roset Partai Konservatif

Cho datang ke Inggris pada 2008 dan memasuki politik pada 2018 (BBC/Timothy Cho)

“Begitulah cara saya belajar bahasa Inggris untuk pertama kalinya, hidup dengan tunawisma yang berada dalam situasi yang sama seperti saya sebelumnya.”

Kemudian dia mulai belajar politik dan memperoleh gelar master dalam Hubungan Internasional dan Keamanan di Universitas Liverpool. Setelah menyelesaikan gelar tersebut, ia terjun ke dunia politik sebagai asisten anggota Parlemen Inggris pada tahun 2018. Saat ini ia menjabat sebagai panitera untuk “All-Party Parliamentary Group on North Korea”.

“Saat mempelajari politik dan struktur sosial, saya melihat rasa sakit di semenanjung Korea. Saya memahami faktor politik dan ideologis, seperti mengapa dibagi menjadi dua, mengapa Selatan menjadi negara demokratis, sedangkan Utara tetap menjadi negara komunis, “Kata Cho.

Bekerja dalam politik, Cho terkagum oleh praktik politik Inggris yang meminta dukungan pemilih dengan mengunjungi tetangga dari pintu ke pintu. Tahun ini, Cho mulai meminta dukungan untuk dirinya sendiri, saat ia ditunjuk sebagai kandidat dari Partai Konservatif untuk kursi dewan di utara Inggris.

“Pepatah favorit saya adalah ‘abdi masyarakat, pelayan orang-orang dalam masyarakat’. Politikus lokal di Inggris adalah seorang pembawa pesan. Saya ingin pergi ke sana dan bekerja atas nama tetangga saya.”

Terlepas dari hasil pemilihan ini, Cho berniat untuk terus bekerja membantu rakyat Korea Utara dengan cara apapun yang ia bisa. Cho ingin mengabdikan dirinya untuk membawa perdamaian ke semenanjung Korea, dan belajar politik adalah salah satu cara untuk mengembangkan kemampuannya guna mencapai tujuan itu.

“Saya tumbuh tanpa keluarga. Jadi, saya tumbuh tanpa mengetahui siapa saya. Saya pikir komunitas yang sehat dimulai dengan keluarga yang sehat, dan komunitas yang sehat membuat negara yang kuat,” kata Cho.