Sat. Sep 18th, 2021

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Tak Percaya Pemerintah, Masyarakat Adat Meksiko Tolak Divaksin

4 min read

Jakarta –

Pada bulan November 2019, Pascuala Vzquez Aguilar bermimpi aneh tentang desanya, Coquilteel, yang terletak di antara pepohonan di pegunungan Meksiko selatan.

Sebuah wabah terjadi di desa dan semua orang berlari ke hutan. Mereka bersembunyi di sebuah gubuk di bawah kanopi pohon ek yang tinggi.

“Wabah itu tidak bisa mencapai kita di sana,” kata Pascuala. “Itulah yang saya lihat dalam mimpi saya.”

Beberapa bulan kemudian pandemi melanda Meksiko dan ribuan orang meninggal setiap minggu. Tetapi Coquilteel dan banyak kota masyarakat adat di negara bagian Chiapas relatif tidak terinfeksi. Ini menjadi berkah tetapi juga menghadirkan masalah.

 

Hampir 30% orang Meksiko telah mendapat satu dosis vaksin melawan Covid-19 sejauh ini, tetapi di negara bagian Chiapas cakupan vaksinasi kurang dari setengahnya.

Di Coquilteel, dan banyak desa terpencil di negara bagian, angkanya hanya sekitar 2%.

Pekan lalu Presiden Meksiko Andres Manuel Lpez Obrador mengomentari tingkat vaksinasi yang rendah di Chiapas dan mengatakan pemerintah perlu berbuat lebih banyak.

Pascuala adalah pemimpin kesehatan masyarakat untuk 364 komunitas di daerah tersebut dan dia telah divaksinasi.

Dia bepergian keluar masuk desa dan khawatir membawa Covid kembali ke keluarga dan teman-temannya yang, seperti kebanyakan tetangga mereka, tidak divaksinasi.

Mereka dipengaruhi oleh kebohongan dan rumor yang beredar di WhatsApp.

Pascuala melihat pesan yang mengatakan bahwa vaksin akan membunuh orang setelah dua tahun, bahwa itu adalah rencana pemerintah untuk mengurangi populasi atau bahwa itu adalah tanda setan yang mengutuk siapa pun yang menerimanya.

Teachers are vaccinated in Chiapas state in Mexico

Capaian vaksinasi di negara bagian Chiapas relatif rendah dibandingkan dengan daerah lain (AFP)

Disinformasi semacam ini ada di mana-mana tetapi di desa-desa seperti Coquilteel, ini bisa sangat kuat.

“Orang-orang tidak mempercayai pemerintah. Mereka tidak melihat pemerintah melakukan sesuatu yang baik, mereka hanya melihat banyak korupsi,” kata Pascuala.

Komunitas di Chiln, sebagian besar adalah keturunan asli dari peradaban Maya.

Di Chiapas ada lebih dari 12 bahasa tradisional resmi yang digunakan. Bahasa pertama di Coquilteel adalah Tzeltal dan hanya sedikit orang yang berbicara banyak bahasa Spanyol.

Masyarakat adat di bagian Meksiko ini memiliki sejarah perlawanan terhadap otoritas pusat, yang berpuncak pada pemberontakan Zapatista pada tahun 1994.

“Pemerintah tidak berkonsultasi dengan masyarakat tentang bagaimana mereka ingin dibantu atau bagaimana memerintah,” kata Pascuala. “Mayoritas tidak percaya bahwa Covid itu ada.”

Ini bukan hanya masalah di Meksiko atau di Amerika Latin, ini terjadi di seluruh dunia.

Di Nigeria utara pada awal 2000-an dan kemudian di beberapa bagian Pakistan, ketidakpercayaan terhadap pihak berwenang menyebabkan boikot terhadap vaksin polio.

Beberapa komunitas ini percaya informasi bohong bahwa vaksin dikirim oleh AS sebagai bagian dari “Perang Melawan Teror”, untuk menyebabkan infertilitas dan mengurangi populasi Muslim mereka.

“Ada lahan subur untuk rumor dan informasi yang salah, di tempat yang sudah kurang percaya pada pihak berwenang dan bahkan mungkin pada sains,” kata Lisa Menning, ilmuwan sosial di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang meneliti hambatan dalam vaksinasi.

“Ada kesenjangan informasi dan mungkin kampanye komunikasi yang dirancang dengan buruk, yang menargetkan komunitas ini secara historis.”

Pascuala Vzquez AguilarGerardo GonzlezPascuala, seorang petugas kesehatan yang sudah divaksinasi, khawatir teman dan keluarganya yang tidak divaksinasi mungkin tertular Covid

Nicolasa Guzmn Garca menghabiskan sebagian besar waktunya di Coquilteel untuk merawat ayam dan menanam sayuran segar untuk keluarganya.

Dia percaya Covid itu nyata tetapi tidak merasa perlu divaksinasi. “Saya tidak terlalu sering meninggalkan rumah. Saya tidak bepergian ke kota, saya fokus merawat hewan saya,” katanya.

Dia juga percaya bahwa gaya hidup tradisional melindungi masyarakat – mereka makan makanan yang sehat dan segar, mendapatkan banyak udara sega, dan berolahraga.

 

Seperti banyak komunitas adat di seluruh Amerika Latin, Tzeltal mempraktikkan campuran Katolik dan agama spiritual kuno mereka.

“Saya tidak bisa mengatakan apakah vaksin ini buruk atau bagus karena saya tidak tahu bagaimana pembuatannya, siapa yang membuatnya dan apa isinya,” kata Nicolasa.

“Tapi saya menyiapkan obat tradisional sendiri sehingga saya lebih percaya diri.”

Dia menggunakan campuran tembakau yang diawetkan, alkohol buatan sendiri dan bawang putih untuk membantu mengatasi masalah pernapasan, dan cairan dari campuran bunga marigold Meksiko atau air dari tanaman rue untuk demam.

Dokter medis Gerardo Gonzlez Figueroa telah merawat masyarakat adat di Chiapas selama 15 tahun dan mengatakan kepercayaan pada obat herbal bukan hanya karena tradisi, tetapi kebutuhan – karena fasilitas medis seringkali jauh.

Dia percaya ada beberapa manfaat perlindungan dari apa yang dimakan masyarakat adat, gaya hidup, dan praktik penyembuhan mereka, tetapi dia sangat khawatir dengan tingkat vaksinasi yang rendah.

“Saya tidak berpikir upaya pemerintah Meksiko cukup kuat untuk melibatkan semua masyarakat,” katanya.

“Lembaga-lembaga ini telah bertindak dengan cara paternalistik. Seperti mengatakan, ‘pergi dan dapatkan vaksin Anda’.”

A worker sanitises people's hands as they queue for an allowance from the local governmentMasyarakat adat di bagian Meksiko memiliki sejarah perlawanan terhadap pemerintah (AFP)

Pemerintah federal mengatakan program vaksinasinya berhasil, dengan kematian menurun hingga 80% di tengah-tengah gelombang ketiga Covid yang melanda daerah perkotaan yang lebih padat penduduknya di Meksiko.

Pascuala mengatakan pihak berwenang terlalu mudah menyerah terhadap orang-orang yang menolak yang divaksinasi di desa.

“Ini adalah biner yang keliru untuk melihat suplai dan permintaan sebagai hal yang terpisah,” kata Lisa Menning dari WHO.

Dia merujuk ke AS, dengan jajak pendapat bulan Maret menunjukkan komunitas kulit berwarna juga ragu untuk divaksinasi, sampai pihak berwenang melakukan upaya besar untuk membuat vaksinasi mudah diakses.

Tingkat vaksinasi di komunitas sekarang jauh lebih tinggi.

“Akses yang nyaman dan terjangkau ke layanan yang baik, dengan petugas kesehatan yang terlatih dan mampu merespons dengan kepedulian- itulah yang membuat perbedaan.”

Ini tidak bisa menjadi pendekatan top-down (atas ke bawah), katanya.

“Yang paling berhasil adalah mendengarkan komunitas, bermitra dengan mereka, bekerja dengan mereka.”

Coquilteel adalah salah satu dari jutaan komunitas pedesaan kecil di seluruh dunia yang sangat kekurangan.

Untuk saat ini, yang bisa dilakukan Pascuala adalah terus berusaha meyakinkan orang untuk divaksinasi dan dia memfokuskan upayanya pada mereka yang bekerja di luar desa, seperti pengemudi truk.

Tetapi sampai semua orang divaksinasi, dia hanya bisa mempercayai kekuatan lain.

“Syukurlah, kami tinggal di komunitas yang masih ada pepohonan dan udaranya masih bersih,” katanya. “Saya pikir dalam beberapa hal, Bumi melindungi kami.”

Baca juga !