Sat. Jun 19th, 2021

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Thailand Dikritik Soal Program Vaksinasi Massal, Ini Fakta-faktanya

3 min read

Jakarta –

Thailand memulai program vaksinasi COVID-19 massal di tengah kontroversi. Diketahui negara pimpinan Perdana Menteri Prayut Chan-o-cha tersebut memulai vaksinasi massal sejak Senin (7/6) lalu.

Vaksinasi dimulai di tengah kekhawatiran terkait pasokan dan keraguan akan kualitas vaksin. Vaksin di Thailand sebagian besar diproduksi lokal oleh perusahaan milik kerajaan, yang tidak memiliki pengalaman dalam membuat vaksin.

Apa saja fakta-fakta dibalik vaksinasi massal Thailand? berikut ulasannya:


Thailand
Gunakan Vaksin Lokal

Seperti dikutip dari The Guardian dan CNN, Selasa (8/6/2021), pemerintah Thailand menerima kritik keras dari para pemimpin oposisi lantasan terlalu bergantung hanya dengan satu produsen vaksin. Diketahui vaksin AstraZeneca lokal akan diproduksi oleh Siam BioScience, perusahan milik Raja Thailand, Maha Vajiralongkorn.

Perusahaan tersebut mendapat kritikan lantaran tak memiliki pengalaman membuat vaksin sebelumnya.

Diketahui bulan lalu, PM Chan-o-cha menargetkan akan menyuntikkan 100 juta dosis vaksin pada akhir tahun. Sebagian dari target -61 juta dosis- diperkirakan akan diproduksi oleh Siam BioScience.

 

BANGKOK, THAILAND - JUNE 07: A woman takes a selfie while being administered the AstraZeneca Covid-19 coronavirus vaccine by a health worker at the mass vaccination site inside the Siam Paragon shopping mall on June 07, 2021 in Bangkok, Thailand. Thailand began rolling out its long-anticipated mass vaccination program on Monday. The government has said it will vaccinate around 70 percent of its population by the end of the year, with either  Sinovac or AstraZeneca vaccines. The government has also announced plans to acquire Pfizer and Johnson & Johnson vaccines to bolster its program. (Photo by Sirachai Arunrugstichai/Getty Images)vaksinasi massal Thailand jadi sorotan, ini fakta-faktanya Foto: Getty Images/Sirachai Arunrugstichai

 

Keraguan Soal Target Vaksinasi Thailand

Thailand diketahui menargetkan akan menginokulasi 70 persen populasi penduduk di akhir tahun mendatang. Namun per Sabtu (5/6), baru sekitar 4 persen populasi yang menerima vaksin, minimal satu dosis vaksin.

Kepala Divisi Penyakit Menular di Universitas Thammasat, Prof Anucha Apisarnthanarak, mengatakan target vaksinasi Thailand terlalu ambisius dan akan sulit dicapai pada akhir tahun.

Menurutnya, diperlukan waktu antara 9-18 bulan untuk memvaksinasi 50 juta orang.”Tergantung pada seberapa cepat mereka menjalankan program dan seberapa agresif mereka melakukannya”

Menurut pejabat setempat, pada Senin (7/6) pagi, ada 986 pusat vaksinasi yang sudah dibuka di seluruh daerah. Sekitar 143.000 orang juga sudah divaksinasi dalam jangka waktu dua jam.

Produksi Vaksin Thailand Disebut Tertunda

Para pejabat di Thailand menargetkan untuk memberikan 6 juta dosis vaksin pada bulan Juni mendatang, dari vaksin lokal maupun Sinovac. Namun kekhawatiran akan kurangnya pasokan vaksin timbul.

Minggu lalu beberapa rumah sakit menunda program vaksinasi lantaran mengaku tak memilik dosis yang cukup. Sebuah kelompok rumah sakit mengatakan penundaan itu akan mempengaruhi 40.000 orang.

Sementara itu, pengakuan dari negara tetangga Filipina makin menguatkan terkendalanya pasokan vaksin dari Siam BioScience. Disebutkan pada 1 Juni lalu, tahap pertama pengiriman 17 juta dosis vaksin buatan Thailand ditunda dan bahkan dikurangi pasokannya.

Bantahan Pemerintah Thailand

Kekhawatiran terkait pasokan vaksin dibantah PM Prayut. Ia meyakinkan masyarakat akan mendapatkan vaksinasi yang cukup.

“Masyarakat khawatir terhadap pengaturan vaksin Covid-19. Pemerintah tidak mengabaikan itu, dinas terkait telah diinstruksikan untuk segera bernegosiasi untuk menemukan lebih banyak vaksin kepada setiap warga Thailand yang bersedia,” katanya saat meninjau vaksinasi di luar Stasiun Bang Sue Grand Bangkok.

Melalui postingan di laman Facebook milik pemerintah, disebutkan sedang berlangsung negosiasi terkait pemesanan 20 juta dosis dari Pfizer/BioNTech dan 5 juta dosis dari Johnson & Johnson.

Badan Pengendalian Penyakit Thailand juga menyebut per 7 Juni, sudah tersedia 2,04 juta dosis vaksin AstraZeneca dan 1,5 juta dosis vaksin Sinovac.

Pertanyaan tentang transparansi publik dan apakah Siam BioScience dapat memenuhi target produksinya adalah masalah sensitif di Thailand.Thailand memiliki undang-undang lese majeste yang paling ketat di dunia, di mana mengkritik raja, ratu, atau pewaris tahta dapat dihukum 15 tahun penjara.

Sementara vaksinasi massal baru dimulai Senin lalu, Thailand sebelumnya sudah mulai melakukan vaksinasi untuk tenaga medis dan pekerja garis depan sejak 28 Februari lalu.

 

Baca juga !