Fri. Jan 21st, 2022

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

United Tractors (UNTR) Gelontorkan Capex US$ 750 Juta di Tahun Ini

3 min read

JAKARTA. PT United Tractors Tbk (UNTR) cukup ekspansif tahun ini. Penjual alat berat merk Komatsu ini menggelontorkan belanja modal atau capital expenditure (capex) hingga US$ 750 juta. Angka ini naik dari capex yang digelontorkan tahun lalu di angka US$ 290 juta

Sekretaris Perusahaan United Tractors Sara K. Loebis mengatakan, alokasi capex yang jumbo ini untuk menunjang kebutuhan bisnis menuju target-target yang telah ditentukan tahun ini. “Pendanaan kas berasal dari kas internal,” terang Sara kepada Kontan.co.id, Jumat (7/1).

Anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) tersebut memasang target optimistis tahun ini. UNTR menargetkan mampu menjual 3.700 unit alat berat di tahun ini. Proyeksi  tersebut naik 23,3% dari target penjualan Komatsu  yang dipasang pada tahun lalu, di angka 3.000 unit.

Target ini dipasang dengan menimbang adanya permintaan dari semua sektor, khususnya dari sektor pertambangan dan sektor konstruksi.

UNTR mencatatkan penjualan  alat berat Komatsu sebanyak 2.950 unit hingga November 2021. Jumlah ini melesat 99,18% dari realisasi penjualan Komatsu pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 1.481 unit. Penjualan alat berat didominasi oleh sektor pertambangan, yakni sebanyak 53%, disusul ke sektor konstruksi sebanyak 25%, sektor kehutanan sebanyak 12%, dan sektor agribisnis sebanyak 10%.

Sedangkan pada periode November 2021 sendiri, UNTR mencatatkan penjualan 360 unit Komatsu. Angka ini menurun 10% dari penjualan pada Oktober 2021 yang mencapai 396 unit, yang merupakan penjualan tertinggi di tahun ini. Adapun pangsa pasar (market share) Komatsu per November 2021 sebesar 22%.

Bukan hanya alat berat, konstituen Indeks Kompas100  ini juga mengerek target operasionalnya di sejumlah lini bisnisnya. Produksi batubara yang dihasilkan oleh anak usaha UNTR yakni PT Pamapersada Nusantara (Pama) ditargetkan akan meningkat sekitar 3%-4%.

Penjualan batubara oleh anak usaha UNTR yakni Tuah Turangga Agung (TTA) akan meningkat sekitar 6%-8%. Sementara proyeksi penjualan emas Martabe sekitar 300.000 oz.

Kinerja operasional lainnya milik UNTR juga moncer sepanjang 11 bulan. Di bisnis kontraktor tambang, Pamapersada mencatatkan volume produksi 106,5  juta ton batubara, naik tipis 1,72% dari produksi batubara di periode yang sama tahun 2020, yakni 104,7 juta ton.

Sementara itu, Pama mencatatkan 781,8 juta bank cubic meter (bcm) pengupasan lapisan permukaan atau overburden (OB) removal sepanjang 11  bulan 2021. Jumlah ini naik 2,47% dari jumlah produksi OB tahun 2020.

Di bisnis perdagangan batubara, PT Tuah Turangga Agung (TTA), UNTR mencatatkan penjualan 8,48 juta ton batubara atau naik  2,9% dari periode 11 bulan 2020 sebesar 8,24 juta ton. Hanya saja, penjualan di periode November 2021 menurun 20,3%, dari 409.000 ton di Oktober 2021 menjadi 326.000 ton.

Sementara sepanjang 11 bulan 2021, UNTR menjual 307.000 gold equivalent ounces (GEOs) emas lewat anak usahanya PT Agincourt Resources. Jumlah ini naik 2,67% dari penjualan emas sepanjang 11 bulan 2020 sebesar 299.000 GEOs. Volume penjualan emas di November 2021 sebesar 25.000 GEOs, sama dengan volume penjualan di Oktober 2021.

Dalam risetnya per 26 November 2021, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Hariyanto Wijaya dan Emma A. Fauni memperkirakan, harga batubara yang menguntungkan akan berlanjut pada tahun 2022, dengan asumsi harga batubara rata-rata masing-masing sebesar US$ 126 per ton dan US$ 100 per ton untuk tahun 2021 dan 2022. Dus, Mirae Asset memperkirakan kinerja operasional  bisnis UNTR yang berkaitan dengan batubara akan solid di tahun ini.

Hariyanto dan Emma rekomendasi beli saham UNTR dengan target harga yang lebih tinggi, yakni Rp30.000 dari sebelumnya Rp 26.800.

Analis RHB Sekuritas Indonesia Fauzan Luthfi Djamal dalam risetnya juga mempertahankan rekomendasi beli saham UNTR dengan target harga Rp 29.400. Namun, risiko  rekomendasi ini diantaranya melemahnya penjualan alat berat, penurunan harga batubara, dan penyebaran Covid-19 yang berkepanjangan yang berdampak pada permintaan batubara global.